Home Blog Kuliner Pedas Menyengat Ala Sambal Bawang Pak Bro
Pedas Menyengat Ala Sambal Bawang Pak Bro
Kuliner
Thursday, 04 June 2009 23:44

Terbakar. Ya, sehabis bersantap saya memang merasakan mulut, wajah, juga jari-jemari tangan kanan saya jadi seperti terbakar saja. Untuk mencoba meredakannya, saya sampai perlu menenggak segelas es teh plus segelas air putih, merendam tangan beberapa lama di mangkuk kobokan, pula menyeka sekeliling bibir, ujung hidung, kening dan dahi dengan lima atau enam lembar tisu. Wuah, kepedesan…kepedesan…

Begitulah yang masih saya ingat tentang kunjungan pertama saya ke sebuah tempat makan pinggir jalan di bilangan Kentungan, Jogja. Warung makan yang menyediakan aneka lauk dari mulai ayam, jerohan, telur dadar, aneka ikan, juga tempe dan tahu ini kebetulan memang memiliki sambal bawang yang —menurut ukuran lidah Jawa saya— begitu pedas sebagai teman makan pengunjung mereka. Sang pemilik bahkan menjadikan sambal bawang sebagai menu andalan serta sekaligus ciri utama dari warungnya. Setidaknya itu bisa dilihat jelas pemilihan titel “Sambal Bawang Pak Bro” sebagai nama dari warung ini.

warung sambal bawang pak bro

Pilihan tadi pun rasanya tak salah. Sambal bawang milik warung yang buka dari pukul 4 sore hingga 10 malam ini menurut saya memang tidak mengecewakan. Buktinya setiap sore hingga malam warung ini selalu ramai dengan pembeli, sehingga mampu menghabiskan 20 sampai 25 kg beras setiap harinya. Dari segi kepedasannya, sambal bawang milik warung di sebelah selatan kantor Bank Permata Kentungan ini, menurut saya, tergolong jempolan. Pedas menyengat!

Pedesnya lain. Lebih pedes ketimbang tempat-tempat lain.” Dimas, seorang teman saya, yang bisa dibilang telah menjajal hampir semua warung sambal yang ada di Jogja, memberi penilaian semacam ini tentang sambal bawang di “Sambal Bawang Pak Bro”.

Sambal bawang milik warung “Sambal Bawang Pak Bro” termasuk jenis sambal mentah. Ia diiuleg begitu ada pesanan datang, tanpa digoreng lebih dahulu. Selain memakai banyak cabe, sedikit tomat yang dibiarkan tak sampai halus tampak ikut ditambahkan sebagai salah satu bahan racikan sambal bawang ini. Menurut taksiran saya, dosis sambal yang diterima para pengunjung warung ini adalah sekitar empat hingga lima sendok makan per orang.

Di “Sambal Bawang Pak Bro”, pembeli diperbolehkan mengambil nasi sepuasnya. Selain itu, untuk setiap pembeli disediakan pula sepiring lalapan. Lalapan tersebut terdiri atas irisan ketimun, beberapa lembar kubis, serta segenggam daun singkong rebus. Makan di tempat ini tergolong murah meriah. Dengan duit Rp 4 ribu sampai Rp 12 ribu saja per orang, pengunjung ditanggung sudah kenyang, juga pasti kepedesan.

Warung “Sambal Bawang Pak Bro” adalah usaha milik oleh seorang pria kurus berkacamata. Sehari-harinya, oleh banyak pengunjung warung, laki-laki berkumis dan berjenggot itu lazim dikenal sebagai sosok Pak Bro. Meski demikian, nama asli dari laki-laki berusia 40-an yang kerap tampil berpeci itu ternyata nggak ada unsur bro-nya sama sekali. Bukan Broto, bukan Subroto, bukan pula Broderick. KTP serta SIM dari laki-laki asal Karangdowo, Klaten ini justru tercetaki satu nama njawani, yakni Riyadi.

“Bro-nya itu cuma nama usulan dari teman-teman saya. Biar mudah diingat saja kata mereka.” ujar Riyadi alias Pak Bro memberi penjelasan.

Riyadi telah menjalankan usaha warung sambal bawangnya selama hampir tiga tahun. Seingat Riyadi, ia mulai berjualan dengan model seperti sekarang ini pada bulan Februari atau Maret 2006. Sebelum berjualan sambal bawang Riyadi sempat beberapa kali berjualan makanan lain. Dulu, pertama-tama ia pernah membuka angkringan selama kira-kira dua tahun. Setelah itu, ia pernah ganti berjualan pecel lele selama setahunan. Hanya saja, semua itu sepengakuan Riyadi tak pernah selaris dagangan sambal bawangnya sekarang. Ide membuka warung sambal bawang ini sendiri datang dari salah seorang seorang temannya, yang melihat dagangan pecel lele milik dirinya ketika itu tak banyak berkembang.

Semula, tempat Riyadi berjualan sambal bawang adalah sekitar seratusan meter ke arah utara dari tempat usahanya sekarang. Ia baru bergeser ke tempat sekarang —yang di pagi hari biasa dipakai berjualan oleh “Bubur Ayam Syarifah”— pada pertengahan Agustus 2008. Kepindahan itu merupakan pil buruk yang terpaksa didapat Riyadi akibat pembukaan supermarket Superindo tepat di sebelah selatan tempatnya dulu berjualan. Kata Riyadi, omzet penjualannya di tempat baru sekarang belum benar-benar bisa menyamai omzet penjualannya di tempat lama. Hanya saja, Riyadi mengakui pula bahwa tempat sekarang membuat warungnya jadi terlihat lebih rapi. Kini, menurut saya, “Sambal Bawang Pak Bro” ini memang terlihat lebih menarik, dengan meja-meja kecil segi empat berangka logam, juga dengan banner panjang cerah bertuliskan nama warung ini.

Akhirnya, bagaimana dengan anda? Tertarik untuk berkunjung dan menikmati sajian di “Sambal Bawang Pak Bro”. Jika ya, mungkin anda perlu mengingat dua hal dari saya ini. Pertama, pastikan anda tak datang selepas pukul 10 malam. Dan kedua, jika ingin memeroleh rasa pedas yang maksimal dari warung ini, ada baiknya anda datang ketika harga cabe sedang tak menggila. Sebab, pedas milik “Sambal Bawang Pak Bro” memang terkadang menyesuaikan diri dengan fluktuasi harga cabe di pasaran he…he…he… [Yoseph Kelik Prirahayanto]