Home Blog Oblong Kasihan Oblong
Kasihan Oblong
Oblong
Wednesday, 27 May 2009 09:59
Saat ini, barang yang satu ini hampir pasti dimiliki oleh setiap orang. Barang yang satu ini bukan barang mewah. Barang yang satu ini juga tidak milah-milih, ingin dimiliki oleh siapa pun, dari kelas mana pun dan jenis kelamin seperti apapun. Tapi, sayang, keberadaannya sering gak dikehendaki di saat dan ruang tertentu. Dalam hal ini, dia sering disandingkan dengan saudara senasib sepenanggungannya, sendal jepit. Ya, barang—yang biasa kita sebut kaos oblong ini—entah kenapa seolah-olah seperti ‘makhluk jahat’, terbuang, terpinggirkan. Cobalah tengok di beberapa tempat (terutma kampus ato kantor-kantor) akan sering kita temui tulisan diskriminatif bagi si oblong, “... Oblong dan Sendal Jepit Dilarang Masuk!” (gak jarang juga tanda pentungnya [!] lebih dari satu). Kenapa tulisannya bukan “Yang Tidak Pakai Baju Dilarang Masuk!”?

Kalo ngeliat gini, kasihan sekali si oblong. Seandainya oblong bisa ngomong, tentu dia akan bertanya dengan menampakkan raut wajah kesedihan kepada si empunya, “kenapa sih aku gak boleh ikut kuliah?” Dalih (baca: biang kerok) peminggiran oblong ini tentu saja, tidak lain tidak bukan, adalah etika, kesopanan. Tapi, bisakah dijelaskan apa itu etika? Apa yang membuat (pemakaian) oblong di tempat-tempat tertentu itu dinilai melanggar etika dan kesopanan? [admin]