Home Blog Oblong Awal Mulanya
Awal Mulanya
Oblong
Wednesday, 27 May 2009 09:51
Entah siapa yang menemukannya, ditengarai t-shirt atau kaos oblong pertama kali dipopulerkan pada tahun 1947. Ketika itu kaos oblong berwarna abu-abu ‘tampil’ melekat pada tokoh Stanley Kowalsky yang diperankan oleh Marlon Brando dalam pentas teater dengan lakon “A Street Named Desire” karya Tenesse William di Broadway, AS. Sontak hal ini menyulut decak kagum penonton yang menilai kostum itu sangat cocok dengan karakter tokoh utama. Tapi, di lain pihak, ada juga penonton yang protes yang beranggapan bahwa pemakaian kaos oblong tersebut termasuk kurang ajar dan dianggap pemberontakan. Maka, muncullah polemik seputar kaos oblong.
Sebagian kalangan menilai pemakaian kaos oblong—yang notabene-nya adalah undershirt, pakaian dalam—sebagai busana luar adalah tidak sopan dan tidak beretika. Namun di kalangan lainnya, terutama anak muda (pasca pentas teater 1947 itu) justru dilanda demam kaos oblong. Benda ini dianggap bukan semata-mada suatu mode atau tren, bukan pula hanya bagian dari keseharian mereka, lebih dari itu, koas oblong adalah lambang kebebasan anak muda.

Polemik tersebut justru menaikkan publisitas dan popularitas kaos oblong dalam percaturan mode. Akibatnya, beberapa perusahaan konveksi mulai bersemangat memproduksi benda itu. Mereka mengembangkan kaos oblong dengan pelbagai bentuk dan warna serta memproduksinya secara besar-besaran. Citra kaos oblong semakin menanjak manakala Marlon Brando sendiri—dengan berkaos oblong yang dipadu dengan celana jins dan jaket kulit—menjadi bintang iklan produk tersebut.

Demam kaos oblong di kalangan masyarakat yang terjadi pada tahun 1961 ini membuat sebuah organisasi yang menamakan dirinya “Underwear Institute” menuntut agar kaos oblong diakui sebagai baju sopan seperti halnya baju-baju lainnya. Menurut mereka kaos oblong juga merupakan karya busana yang telah menjadi bagian budaya mode. Demam kaos oblong terus mewabah, melumat seluruh benua Amerika dan Eropa. Terlebih ketika aktor James Dean mengenakan kaos oblong dalam film “Rebel Without A Cause”.

Masuk ke Indonesia
Konon, masuknya benda ini ke Indonesia dibawa oleh orang-orang Belanda. Ketika itu perkembangannya tidak pesat, sebab benda ini mempunyai nilai gengsi tingkat tinggi dan di Indonesia teknologi pemintalannya juga belum maju. Akibatnya benda ini termasuk barang mahal.

Kaos oblong baru menampakkan eksistensinya, hingga merambah ke segenap pelosok pedesaan, sekitar awal tahun 70-an. Wujudnya masih konvensional, berwana putih, bahan katun-halus-tipis, melekat ketat di badan dan hanya untuk kaum adam. Beberapa merek yang cukup terkenal waktu itu adalah Swan dan 77. Ada juga merek Cabe Rawit, Kembang Manggis, dan lain-lain.

Dalam perkembangannya, tidak hanya di Amerika dan Eropa, di Indonesia pun kaos oblong sudah menjadi media berekspresi. Kaos oblong yang semula hanya polos berwarna putih itu diberi gambar vinyet. Tidak lama kemudian, tren vinyet digeser oleh tulisan-tulisan yang berwarna-warni dengan teknik seperti sablon. Ada juga gambar-gambar koboi, orang-orang berambut gondrong, dan lain-lain. Warna bahan kaos oblong pun sudah mulai marak, yaitu merah, hitam, biru dan kuning. Tren kaos oblong ini rupa-rupanya direkam pula oleh Kartunis GM Sudarta melalui tokoh Om Pasikom dan kemenakannya dengan tajuk “Generasi Kaos Oblong” (Harian Kompas, 14 Januari 1978).

Kaos Oblong Sekarang
Kini, kaos oblong bukan lagi suatu hal yang fenomenal. Bukan lagi mencerminkan kebebasan. Kehadirannya sudah dianggap biasa. Tak menimbulkan kesan yang lebih dari sekadar prestis merek atau hanya sebuah benda pembalut tubuh. Ya...beberapa kali kaos oblong memang sempat menjadi ’hero’ di media massa karena konten grafisnya yang hot, lucu dan menggelitik. Tapi kemudian redup kembali, tak lebih dari sekadar cinderamata. Datar. Entah karena kontennya yang sudah usang, atau pasar yang telah beralih minat. Seperti itulah dinamika kehidupan kaos oblong.

[admin/dari berbagai sumber]