| Sepotong Kisah tentang Kebun Teh Kemuning |
| Whatever! |
| Tuesday, 16 June 2009 15:12 |
|
Pada lereng barat laut Gunung Lawu, berjarak sekitar 35 kilometer arah timur dari kota Solo, terdapat sebuah daerah perkebunan teh. Nama dari tempat itu adalah Kebun Teh Kemuning. Nama ini memiliki ketekaitan dengan nama salah satu desa yang ada di kawasan tersebut, yakni Desa Kemuning, tempat dimana sebagian areal kebun terhampar, juga tempat dimana bangunan pabrik pemrosesan teh berdiri. Perkebunan teh dengan luas sekitar 483 hektar ini termasuk di dalam wilayah Kabupaten Karanganyar, dan tercatat di bawah pengelolaan sebuah perusahaan bernama P.T. Rumpun Sari Kemuning. Saya sejauh ini telah empat kali menyambangi kebun teh di perbatasan Kecamatan Ngargoyoso dan Kecamatan Jenawi itu. Kunjungan kali pertama adalah pada awal Juni 2005, sedangkan kunjungan terakhir terjadi pada awal Juli 2008 silam. Seluruh kunjungan saya di kebun teh tersebut pada dasarnya lebih merupakan acara singgah. Ini karena tujuan asli saya dalam keempat kunjungan itu adalah selalu Candi Cetho, 7 kilometer sebelah timur laut dari Kebun Teh Kemuning. Seperti banyak kebun teh di tempat-tempat lain, kebun teh ini cenderung berfungsi ganda. Selain menjadi tempat pembudidayaan tanaman teh alias Camellia sinensis, ia akhirnya sekaligus menjelma sebagai sebuah obyek wisata agro. Warna hijau yang terbentang luas sejauh mata memandang, kontur tanah tanah yang berbukit-bukit, suasana yang tenang dan berhawa sejuk, kabut serta mendung yang gemar memberikan interupsi, jalur-jalur setapak yang saling silang menghasilkan pola-pola unik, juga buruh-buruh petik perempuan yang setiap hari cekatan mengumpulkan puluhan kilo pucuk daun teh, merupakan sekumpulan hal yang membuat kebun teh menjadi seksi di mata orang-orang non lokal, khususnya mereka para penghuni kota. Maka, dari hari ke hari ada saja orang, dengan berbagai latar belakang, juga dengan maksud dan tujuan, datang menyambangi tempat itu. Mereka itu terdiri atas keluarga dari kota yang membutuhkan tempat piknik akhir pekan, pelajar sekolah dan mahasiwa yang mengikuti karyawisata atau praktek kerja lapangan, karyawan-karyawan atau anggota-anggota perkumpulan yang melakukan tea walk, para pekerja rumah produksi maupun biro iklan yang mengerjakan syuting ataupun pemotretan, jurnalis yang melakukan peliputan, pasangan calon pengantin yang sedang menjalani sesi pemotretan pre wedding, dan tentu saja ada juga pasangan-pasangan kasmaran pencari tempat mojok yang romantis namun murah. Hmmm… ![]() Di saat bersamaan, kunjungan orang-orang dari luar wilayah perkebunan teh ?semacam saya ini? ke areal perkebunan teh, juga sekian hal yang mereka kerjakan di tempat itu, ternyata cenderung menciptakan suatu mitos eksotisme tentang kebun teh. Tempat tersebut lantas dilihat sebagai tempat yang sepenuhnya permai. Nyaris seperti seiris bagian kahyangan yang disematkan di Bumi. Alhasil, sebagian besar orang menjadi terbiasa dan juga ?tanpa sadar? hanya mau melihat sisi yang melulu indah dari kebun teh. Mereka yang datang untuk sekedar plesir menularkan mitos tadi kepada kerabat, kolega dan tetangga, yakni lewat cerita-cerita spontan, juga foto-foto maupun rekaman video penuh kecerian yang mereka buat. Mereka yang datang untuk tujuan komersil seperti membuat film, videoklip, iklan, foto, hingga liputan, berkontribusi dalam berkontribusi dalam penciptaan mitos tadi lewat penyebarluasan karya mereka yang berisikan rekaman wajah terpoles dari kebun teh. Contoh dari wajah-wajah kebun teh yang telah terpoles oleh tangan-tangan kreatif antara lain dapat disimak dalam iklan serta tampilan kemasan teh celup maupun minuman teh dalam kemasan, videoklip-videoklip musik semacam “Sebelum Cahaya”-nya grup band Letto, juga film-film semisal “Heart” yang dibintangi Nirina dan Irwansyah. Saya sendiri adalah seorang yang tak luput pula dari penyakit keterpesonaan kepada kebun teh. Maka, harap dimengerti jika empat bulan lalu, kala melintasi Kebun Teh Kemuning dalam perjalanan ke Candi Cetho, saya sempat begitu gembira melihat sebuah pemandangan di kejauhan. Saat itu sejumlah buruh petik kebetulan tengah bekerja di salah satu petak perkebunan itu. Saya pun lantas membelokkan motor tunggangan saya, meninggalkan jalan beraspal dan masuk ke jalan perkebunan yang berbatu-batu. Saya waktu itu berharap bisa mengambil beberapa foto dari para buruh petik yang tengah bekerja. Tapi, ealah…niat penuh semangat saya tadi ternyata tak kesampaian. Saya rupanya sudah telat. Begitu saya mengeluarkan kamera dari dalam tasnya, saat itu pulalah saya tersadar bahwa para perempuan buruh petik yang ingin saya potret rupanya telah hampir merampungkan pekerjaan mereka pagi itu. Satu per satu dari mereka pun mulai turun dari petak penanaman menuju jalan perkebunan untuk rehat dan menunggu mobil pikap pengangkut hasil petikan. Kecele deh! ![]() Guna mengobati kekecewaan, saya lalu mencoba berbincang dengan beberapa dari perempuan-perempuan buruh petik itu. Jumlah seluruh buruh petik itu 26 orang. Dari likuran buruh petik yang saya temui saat itu terdapat seorang perempuan sepuh yang mengaku berumur 70 tahun lebih. Tampaknya ia yang paling tua dari di antara yang lain. Kepada saya, ia mengenalkan dirinya sebagai Mbah Wiryo Sumarto, meminjam nama milik suaminya. Perempuan jauh lebih sepuh dari Mbah Putri saya ini bercerita bahwa ia telah mulai bekerja sebagai pemetik teh sejak usianya masih belasan awal. “Rumiyin sing ngajak Mbok kaliyan Mbah kulo.” Dalam bahasa Jawa halus ia lantas berujar singkat bahwa ia bekerja di sini karena diajak oleh ibu dan neneknya. Ia bertutur pula bahwa di masa mudanya ia ikut memerluas areal perkebunan teh sebagai buruh tanam borongan. Sembari menikmati bekal makan bawaanya dari rumah, brabuk alias nasi jagung dengan lauk bothok laron, Mbah Wiryo lalu bercerita kepada saya tentang upah buruh teh sepertinya puluhan tahun silam, di awal-awal ia bekerja. Katanya, pihak pabrik ketika itu menghargai setiap kilogram petikan teh para buruh dengan angka 2,5 sen Rupiah atau setali. Lalu berapa upah yang diterima para buruh petik teh seperti Mbah Wiryo saat ini? Saat saya tanyakan hal tersebut, beberapa perempuan buruh petik di sekeliling Mbah Wiryo segera menyahut dan saling menimpali. Mereka ini menyebut angka Rp 250,00 perkilogram untuk kualitas petikan biasa dan Rp 290,00 per kilogram untuk kualitas petikan yang bagus. Setiap buruh petik sendiri selama bekerja sekitar 3 hingga 4jam setiap harinya, yakni mulai dari jam 6 sampai 9 atau 10 pagi, menghasilkan jumlah petikan yang bervariasi, 30-an hingga 70-an kilogram per orang. Sebagian besar buruh menghasilkan 40-an kilogram petikan teh. Upah para buruh petik tak diterimakan setiap hari, tetapi kalau tak salah diterimakan secara akumulatif setiap dua pekan sekali. Maka, jika dipukul rata, setiap bulannya setiap buruh kira-kira menerima upah sebesar Rp 350 – 400-an ribu. Cukupkah uang sebesar itu buat mereka? Pada pertanyaan saya ini, buruh-buruh petik itu tak memberi jawaban pasti. Banyak dari mereka hanya menanggapinya dengan tawa sejenak yang sulit ditafsir, beberapa yang lain berseloroh spontan dalam bahasa Jawa. “Nggih dicukup-cukupké, Mas (Ya, dicukup-cukupkan, Mas).” Saya sendiri merasa upah yang mereka terima sebenarnya tergolong rendah. Lha gimana? Orang mengumpulkan pucuk-pucuk daun teh yang ringan selembar demi selembar hingga akhirnya terkumpul puluhan kilo, eh sekilonya ternyata cuma dihargai Rp 250-290,00. Murah banget!? Hanya setara dengan lima sampai enam bungkus permen! Padahal, buruh-buruh itu katanya sedikit sekali jatah liburnya, yakni pas hari-hari raya saja semacam Lebaran, sedangkan untuk hari Minggu mereka tetap saja harus turun naik bukit untuk memetik teh. Apa lagi, sepengakuan para buruh, mereka diharuskan oleh pihak pabrik untuk mencukupi sendiri perlengkapan kerja harian mereka. Mereka itu tidak diberi seragam oleh pihak pabrik. Caping,baju lengan panjang, keranjang atau kain jaring-jaring sebagai tampungan hasil petikan, sepatu bot, kaus tangan, ani-ani (pisau pemotong khas Jawa), juga bekal makan, semuanya musti mereka sediakan sendiri. Malah, gunting-gunting pemangkas yang dibagikan pihak pabrik kepada para buruh petik beberapa waktu silam pun ternyata juga tidak gratis. Para buruh petik bercerita kepada saya bahwa masing-masing dari mereka musti membayar Rp 35 ribu kepada pihak pabrik untuk alat satu itu. Sedikit ironis memang. Sebab, sebenarnya gunting-gunting pemangkas itu diadakan untuk kepentingan pihak pabrik, yakni meningkatkan jumlah petikan teh dari tiap buruh petik. Sebagian buruh petik sendiri akhirnya justru menganggurkan gunting-gunting pemangkas itu di rumah mereka masing-masing, memilih tetap bertangan kosong atau memakai ani-ani dalam bekerja. Kata mereka, gunting pemangkas lebih banyak menyulitkan kerja mereka ketimbang memudahkan. Fasilitas yang diperoleh para buruh petik dari pihak pabrik memang minim. Paling mereka memeroleh THR (Tunjangan Hari Raya) setahun sekali pas Lebaran. Besarnya adalah Rp 80-100 ribu. Menurut cerita para buruh, dulu setiap tahun mereka pernah mendapat jatah daging sapi 1 kilogram per orang.Tapi, sejak kira-kira empat tahun terakhir, hal tersebut tak lagi mereka peroleh. Di sisi yang lain, buruk sangka saya tadi mungkin saja ternyata salah. Boleh jadi upah Rp 250-290 per kilogram alias Rp 350 – 400-an ribu ternyata justru adalah jumlah yang lumayan di pedesaan Ngargoyoso dan Jenawi. Saya sendiri tak tahu pasti berapa angka upah minimum buruh di Kabupaten Karangnyar saat ini. Selain itu, sepengetahuan saya ?yang lahir di desa dan pernah blusukan beberapa lama di desa-desa di Bantul pada medio 2006 hingga 2007? orang-orang desa, khususnya golongan petani dan buruh taninya, bisa dikatakan memiliki kemampuan menakjuban untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Hanya saja, saya tetap memerkirakan bahwa penghasilan para perempuan buruh petik adalah tergolong mepet. Tak benar-benar cukup untuk mendukung hidup yang layak bagi keluarga mereka, termasuk jika rata-rata penghasilan bulanan suami mereka ?yang kira-kira besarnya setara? ikut ditambahkan. Dimana-mana, termasuk di pedesaan, gaya hidup masyarakat sedang cenderung berlipat. Orang-orang desa di zaman sekarang, terutama generasi mudanya, memiliki keinginan-keinginan yang sering tak berbeda jauh dengan orang-orang di kota. Mereka menjadi butuh memiliki pakaian-pakaian yang cukup bagus, menjadi merasa wajib memunyai tivi, cenderung mengharuskan diri untuk memiliki sepeda motor ?yang kalau bisa lebih dari satu. Mereka juga menjadi butuh untuk memiliki henfon, yang sebisa mungkin model baru, yang tentu saja butuh disuapi pulsa secara rutin. Apa lagi, perkembangan Ngargoyoso menjadi satu kawasan wisata pegunungan pengaruh booming Anthurium di daerah tersebut beberapa waktu silam, tentunya cenderung mendorong peningkatan gaya hidup masyarakat di sana. Apakah keluarga-keluarga para buruh petik teh dapat dengan mulus memenuhi tuntutan-tuntutan kebutuhan hidup jenis baru semacam tadi? Menurut saya, sepertinya tidak mudah. Lebih lagi jika keluarga-keluarga itu adalah kalangan yang tersisih dari tren perkembangan ekonomi di Ngargoyoso, baik pariwisata maupun pembudidayaan dan jual-beli Anthurium beberapa waktu lalu. Tuturan para buruh petik tentang seluk beluk pekerjaan mereka menyadarkan saya bahwa orang-orang dari luar daerah kebun teh, semacam saya ini, rupanya memang cenderung abai untuk mencari wajah utuh dari daerah kebun teh. Banyak orang non lokal semacam pelancong selalu lebih banyak terbius oleh hijaunya hamparan teh, juga terlalu sibuk untuk berfoto dalam pose-pose narsis. Tiba-tiba, saya agak merasa bersalah telah menjadi seorang yang terobsesi untuk mendapatkan foto-foto artistik dari para pemetik teh saat mereka bekerja. Ah,apa saya pikir buruh-buruh itu sebuah tontonan sirkus? [Yoseph Kelik Prirahayanto] |











