|
Hampir dua pekan silam, sewaktu pulang selepas tengah malam dari tempat seorang teman, saya menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah gerai minimarket 24 jam di bilangan Kentungan. Sedikit banyak karena tergoda efek visual tempat kecil tersebut, yang berwarna merah menyala lagi terang benderang. Tapi, sejujurnya karena saya memang sedang ngidam bir dingin he…he…he…
Saya berada di tempat itu sebentar saja, paling sekitar lima menit. Begitu masuk, saya langsung menghampiri lemari pendinginnya, mengambil barang yang saya cari, lalu balik kanan ke kasir untuk membayar. Hanya saja, keluar dari minimarket tadi, rupanya ada hal yang turut saya pulang selain sebotol kecil bir dingin belanjaan saya. Maaf, ini bukan berarti saya saya mengutil salah satu dagangan tempat itu. Yang ikut terbawa pulang dini hari itu hanyalah sebuah pikiran, atau mungkin bisa dikatakan sebagai sebuah “pencerahan” kecil he…he…he…, tentang minimarket 24 jam. Ealah…, sudah mulai ngantuk saja kok ya masih nekat mau mikir yang rumit-rumit… Tempat yang saya singgahi barusan terhitung anyar. Kalau tak salah, gerai satu ini baru dibuka sekitar sebulan terakhir. Gerai ini sendiri merupakan bagian dari sebuah jaringan besar minimarket 24 jam yang terkenal. Gerai-gerai dari jaringan besar tadi memiliki ciri yang spesifik. Tampilan fisik bangunannya, khususnya bagian muka, didominasi oleh warna merah menyala. Selain di Jogja, jaringan minimarket tadi beroperasi juga di berbagai kota dan daerah lain di seantero Indonesia, yakni antara lain Bali, Jakarta, Bandung dan Batam.
Tujuh atau delapan tahun lalu, gerai dari jaringan minimarket 24 jam tersebut sepengetahuan saya cuma ada dua biji di seluruh Jogja, yakni di Jalan Malioboro. Kini, jumlah gerai dari jaringan tersebut di Jogja agaknya telah berlipat menjadi lebih dari selusin. Keberadaan mereka saat ini bisa ditemukan di berbagai sudut Jogja, khususnya ruas-ruas jalan di sisi kota bagian utara. Beberapa titik persebaran mereka di luar Malioboro antara lain adalah Jalan Magelang, Jalan Kaliurang, Jalan Jenderal Soedirman, Jalan Laksda Adi Sucipto, Jalan Affandi/Jalan Gejayan, Sagan, Samirono, Papringan. Selain itu, masih ada juga minimarket-minimarket 24 jam lain di luar jaringan besar yang telah saya sebutkan tadi. Minimarket 24 jam non jaringan ini antara lain bisa ditemukan di Jalan Urip Soemohardjo/Jalan Solo, daerah Pasar Kembang, juga sisi barat SPBU Sagan.
Banyak minimarket 24 jam di Jogja tentu saja memberi banyak manfaat pula bagi penduduk kota ini. Durasi buka mereka yang nonstop siang-malam membuat mereka bisa menjadi tempat jujugan yang bisa diandalkan, terutama pada antara jam 10 malam hingga 9 pagi, jam-jam yang tak lagi terkaver oleh pelayanan toko, minimarket, ataupun berbagai tempat belanja berjam buka konvensional lainnya. Dengan beroperasi tanpa mengenal jam tutup, minimarket 24 jam tentulah menolong banyak orang dalam menghadapi beragam situasi yang bersifat darurat. Yang sakit bisa memeroleh obat, yang mendadak terserang lapar di tengah malam bisa mendapatkan roti atau camilan, yang kehausan bisa mampir dan mendapatkan beraneka pilihan jenis minuman he…he…he…, hmmm…dan lain sebagainya tentu saja. Yah, di tempat tersebut orang memang bisa menemukan banyak barang yang sering mendadak diperlukan, khususnya di tengah malam dan dini hari: dari mie instan hingga bir dan minuman suplemen, dari permen hingga obat, juga dari sikat gigi hingga kondom.
Tentang tempat-tempat yang selanjutnya juga menjadi titik-titik nongkrong merayakan malam tersebut, saya pun memiliki satu prediksi iseng. Menurut saya, tiga item yang paling laris terjual di sana adalah rokok, bir dan tentu saja kondom. Hmm, kapan-kapan saya mungkin akan mencoba mengecek kesahihan prediksi iseng saya tadi. Atau, anda mungkin tertarik membantu saya hmmm… [Yoseph Kelik Prirahayanto] |