|
Pada 29 April 2009 lalu, presenter berita Putra Nababan, dalam Seputar Indonesia RCTI yang dibawakannya, melakukan wawancara via telepon dengan Brigjen. Christian Zebua, Kepala Dinas Penerangan TNI AD. Sang presenter menanyai Brigjen Zebua soal seluk beluk insiden yang terjadi di Yonif 751, Sentani, Papua, yakni penyerangan para prajurit batalyon tersebut tadi terhadap komandan mereka sendiri.
Awalnya, Brigjen Zebua mampu menjawab dengan baik setiap pertanyaan dari Putra. Wajar lah, kan sudah saya bilang tadi kalau jabatan Brigjen Zebua adalah Kepala Dinas Penerangan AD. Jadi, beliau ini pasti sudah sangat biasa berurusan dengan makhluk bernama jurnalis. Wawancara dengan RCTI kali itu tentunya adalah wawancara tivi yang nomor ke sekian yang pernah dijalani. Hmm, kalau orang Jawa mungkin bilang nomor ke suwidak rolas he3x... Lha bagaimana lagi, tugas sehari-harinya kok.
Namun, setelah beberapa lama, kefasihan menjawab Brigjen Zebua ternyata lantas menguap. Itu terjadi ketika Putra meminta tanggapan sang brigjen perihal perlakuan buruk yang sempat didapat sejumlah wartawan peliput pada insiden itu. Memang sempat terjadi perusakan dan perampasan kamera-kamera para jurnalis di sana.
"Bagaimana..., bagaimana..., maaf bisa diulangi sekali lagi?"
Pertanyaan Putra justru berbalas respon yang tidak jelas dan terputus-putus semacam ini. Kesannya, sambungan telepon diantara Putra di Studio RCTI dengan sang brigjen seperti mendadak bermasalah. Putra harus mengulang kembali pertanyatannya beberapa kali, hanya untuk kembali pula mendapat balasan respon yang sama tak jelasnya. Baru kira-kira pada pertanyaan kali keempat sang brigjen akhirnya bisa kembali menjawab dengan lancar.
Saya menjadi teringat beberapa wawancara lain, via telepon dalam berita tivi yang pernah saya saksikan sebelumnya. Rupanya gangguan komunikasi seperti yang sempat terjadi dalam wawancara Putra Nababan terhadap Brigjen Zebua adalah sesuatu yang jamak terjadi, bisa ditemukan dalam sepanjang sejarah siaran berita tivi di Indonesia, khususnya sesi wawancara via teleponnya. Hal semacam itu percaya atau tidak sering menginterupsi wawancara seorang penyiar terhadap pejabat mengenai suatu kasus tertentu. Namun, kerap terjadi pula pada orang-orang biasa yang tak berkasta pejabat
Hmmm, saya lantas menjadi bertanya-tanya apakah hal semacam itu murni terjadi karena gangguan komunikasi, ataukah justru merupakan semacam trik, untuk berkelit dari cecaran pertanyaan awak maupun mengulur-ulur waktu media. Mungkin saja memang gangguan komunikasi, saya mencoba sedikit berbaik sangka. Tetapi, kalau murni gangguan komunikasi kok ya terlalu sering terjadi saat siaran berita tivi sih... Tetapi, kalau ternyata merupakan sebuah trik, saya terus terang menyayangkannya. Maksudnya, kok trik untuk berkelit ya cuma begitu saja dari dulu dari sekarang. Mbok ya ada inovasi lah... Yah, misalnya orang yang diwawancarai mendadak menirukan suara operator seluler saat panggilan telepon tak tersambung gitu... "Nomor yang anda hubungi sedang sibuk atau berada di luar jangkauan area. Silahkan mencoba menghubungi kembali beberapa saat lagi."
Omong-omong, "gangguan komunikasi" yang mendadak terjadi di antara Putra Nababan dan Brigjen Zebua kemarin membuat saya juga teringat pada seorang sahabat saya. Sebab, suata kali, saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana "gangguan komunikasi" tersebut tadi menginterupsi pembicaraan telepon sahabat saya itu dengan bekas cowoknya. Padahal sebelumnya perbincangan antara keduanya sepertinya lancar-lancar saja. Saya ingat betul itu karena sahabat saya pun mendadak harus bertanya terputus-putus agak mirip dengan Brigjen Zebua kemarin.
"Gimana..., gimana..., nggak jelas, bisa diulangi lagi apa tadi?"
Lho, kok lumayan mirip ya? [Yoseph Kelik Prirahayanto] |