Home Blog Serious Perpustakaan dan Pembentukan Masyarakat Kritis
Perpustakaan dan Pembentukan Masyarakat Kritis
Serious
Wednesday, 07 October 2009 11:48

Sudah menjadi hal jamak bahwa keberadaan perpustakaan merupakan prasarana penting untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi dan khasanah pengetahuan keilmuan. Sejarah mencatat, perpustakaan sudah semenjak dahulu kala menjadi situs budaya yang sangat fungsional bagi perkembangan intelektual di setiap pemukiman manusia dan lingkungan hidup.

Muasal Pencerahan Eropa, misalnya, bermula dari ketekunan para rahib di biara ordo Santo Benediktus yang penuh dengan labirin perpustakaan. Mereka mencari naskah dan mentransfer ilmu dari khasanah peradaban Islam, Persia, Yunani, serta belahan dunia lain, ke dalam tradisi Eropa. Dan semangat ini pun masih dihidupi bangsa-bangsa Barat hingga saat ini.

Di tengah dunia yang kian berjejaring, keberadaan perpustakaan sebagai kebutuhan utama masyarakat menjadi satu hal yang tak bisa dipungkiri. Terlebih, manakala perkembangan zaman yang tengah berlangsung menuntut sebuah tatanan masyarakat baru sebagai prasyarat penting menghadapi situasi global yang kian lintas batas dan kompleks seperti sekarang, yaitu masyarakat literer. Terbentuknya masyarakat literer atau masyarakat dengan tradisi baca-tulis adalah suatu visi kelembagaan yang memang ingin dicapai sebuah perpustakaan. Kita tahu, euforia teknologi informasi yang menandai zaman di mana kita hidup sekarang sesungguhnya mengandaikan masyarakat berbasis budaya literasi. Maka, kiranya tak berlebihan jika Sapardi Djoko Damono menyebut perpustakaan sebagai pusat peradaban.

Bagi Indonesia, sebagai sebuah negeri dengan tingkat pendidikan warganya yang rendah dan masih terkungkung tradisi lisan, pokok di atas menjadi satu hal yang tak bisa diabaikan. Ketika biaya sekolah yang kian membumbung tinggi melumpuhkan akses kaum papa terhadap pendidikan (formal), maka keberadaan perpustakaan bisa menjadi basis kelembagaan terakhir bagi masyarakat untuk membangun komunitas belajar dan mengembangkan kritisisme. Ya, perpustakaan sesungguhnya dapat mendorong terjadinya transformasi budaya dalam masyarakat. Dengan kata lain, ia dapat menjadi prasyarat utama terbentuknya habitus baru dalam masyarakat, yakni habitus masyarakat pembelajar.

Demikianlah, kehadiran perpustakaan dalam suatu lingkungan sosial tertentu dapat mendorong kemunculan komunitas belajar (community learning) yang menghargai dan menjunjung tinggi sebuah gagasan. Dari sanalah pengetahuan dan kearifan itu didistribusikan. Dinamika yang terjadi di dalamnya mendorong masyarakat untuk mengelola dan berkreasi dengan pelbagai potensi yang dimilikinya. Kegiatan membaca (konsumsi pengetahuan), menulis (produksi pengetahuan), dan komunitas pelatihan (training community) yang tercipta dari lingkungan seperti ini pada akhirnya akan mendorong terbentuknya masyarakat kritis. Sementara  kita tahu, masyarakat yang mempunyai kesadaran kritis adalah prasyarat kultural utama menuju sebuah tatanan yang demokratis.[Rusman]