Home Blog Reviews Iwan dan “Pengangguran Terdidik” (feat. Rendra)
Iwan dan “Pengangguran Terdidik” (feat. Rendra)
Reviews
Friday, 20 November 2009 01:38

engkau sarjana muda resah tak dapat kerja
tak berguna ijazahmu
empat tahun lamanya bergelut dengan buku
sia sia semuanya


Dari tahun 1981, Iwan bernyanyi. Kali ini ia menyoal realitas pendidikan di tanah air pada masa itu. Seperti pada petikan lirik lagu di atas, apa yang dilantunkan Iwan tampaknya memang cukup memberi gambaran tentang potret lulusan lembaga-lembaga pendidikan tinggi kita kala itu, sesuatu yang sebenarnya masih relevan juga dengan kondisi sekarang.

Bagi sebagian orang yang merasa “pengangguran terdidik”—sebutan ini terasa janggal, boleh jadi lirik lagu itu terdengar menyayat hati. Dan tampaknya itu memang disengaja Iwan. Selain itu, juga tampak jelas bagaimana refleksi kritis Iwan, sebagai seorang seniman, terhadap dunia pendidikan di tanah air. Saya tidak tahu persis apa sebenarnya makna pendidikan bagi Iwan. Namun dapat dikatakan di sini, bahwa konteks yang melatari proses kreatif penciptaan lirik lagu itu adalah ketika masa Orde Baru sedang dalam masa “keemasannya”. Semangat zaman yang tersemai waktu itu memang memungkinkan pendidikan melulu diorientasikan bagi pemenuhan kebutuhan sumber daya di birokrasi dan lembaga-lembaga perusahaan. Dengan kata lain, demi mencetak lulusan yang siap kerja, kerja, dan kerja.

Dengan pendidikan, generasi muda disiapkan untuk menjadi penopang (“skrup”) bagi dominasi sebuah sistem yang telah mapan sekaligus melanggengkannya—kendatipun betapa korupnya sistem itu. Pendidikan menjelma ideological state aparatus, yakni sebagai piranti bagi penyebaran ideologi penguasa untuk menjinakkan individu (warga negara) agar menjadi tunduk, patuh, tanpa harus diawasi. Individu disiapkan berada digaris depan sambil meneriakkan jargon nasionalisme buta yang menumpulkan akal sehat: right or wrong is my country. Dengan begitu, barangkali tak berlebihan jika ada yang menyebutkan sekolah-sekolah yang pernah kita sambangi—dimana kita pernah belajar, bermain, dan bermimpi, juga menghabiskan umur di dalamnya—sebagai panopticon yang tak jauh beda dengan penjara. Karena, di sana ada sebuah mekanisme pendisiplinan dimana tubuh dikontrol dan pikiran diseragamkan. Potensi setiap individu pun diberangus, atau setidaknya tidak dibiarkan tumbuh dan berkembang secara wajar.  

Hanya saja, apakah memang benar begitu? Seorang teman yang duduk manis di sampingku, sambil tersipu malu, tampak ragu jika dikatakan sepenuhnya begitu. Tapi baiklah, mari kita fokuskan sejenak obrolan ini wabilkhusus pada lirik lagu Iwan semata.

Ada semacam perasaan takjub bercampur tak percaya ketika Juni silam mendengar kabar anak-anak di Desa Kalibening, Salatiga, dengan suka cita memutuskan memilih tidak mengikuti Ujian Nasional (UN). Mereka, siswa-siswi di SMP Terbuka Qoryah Thoyyibah (dalam bahasa Indonesia artinya “desa yang bahagia”) itu, barangkali merasa enggan dan memang tidak mempunyai cukup alasan untuk mengikuti aturan kebijakan pendidikan nasional. Pun sangat mungkin ini adalah sebentuk resistensi terhadap sistem pendidikan yang masih menempatkan peserta didik sebagai objek; yang tidak mempunyai hak untuk mengambil keputusan secara mandiri. Terlebih, manakala mereka juga sangsi bahwa pendidikan formal—yang mahal dan tidak humanis itu—bakal memampukannya melihat dengan lebih jernih dan menjawab segala persoalan yang ada di sekitar mereka. Seperti kata Rendra:

Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
[...]
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

Tetapi apakah mereka tidak butuh pekerjaan? Kukira bukan itu persoalannya. Mereka hanya seakan ingin menggemakan kembali gugatan Freire lebih dari seperempat abad silam: jika pendidikan ditujukan semata-mata untuk bekerja, berarti pendidikan itu tidak membebaskan dong?

Kelak, kita tahu, Iwan sendiri pun (sepertinya) merevisi lirik lagu itu. Dalam lagunya yang lain ia pernah bertutur: harus ada yang dikerjakan/ agar hidup ini berjalan wajar. Dari sini tampaklah, bahwa yang disebut sebagai kerja itu sebenarnya tidak ada kaitannya dengan pendidikan (formal). Bagi Iwan, kerja adalah sebentuk wahana dimana manusia bisa mengaktualisasikan segala potensi kediriannya. Artinya, jika orang dewasa tidak bekerja, maka hidupnya, boleh jadi, bakal tidak wajar. Ia akan menderita neurosis, sebuah gejala kejiwaan yang tidak lazim—kalau ukuran kelaziman boleh dipakai di sini.

Bukankah begitu, bung Iwan? [Rusman Nurjaman]