Home Blog Reviews Jilbab dan Film Perempuan Berkalung Surban
Jilbab dan Film Perempuan Berkalung Surban
Reviews
Saturday, 13 June 2009 12:48

Liburan ini aku mendapat kesempatan menonton film Perempuan Berkalung Surban di settingnya sendiri, Jombang. Aku lebih suka film daripada novelnya. Bila novelnya hanya kuberi dua bintang, aku rela memberikan tiga bintang untuk film PBS.

Gambar-gambarnya bagus, tokoh-tokoh protagonisnya tidak semenyebalkan di buku, aku bisa lebih bersimpati pada Annisa si tokoh utama, nada mengguruinya berkurang dan konfliknya juga lebih terasa tidak terlalu dibuat-buat (uhmm..meski kadang masih terasa terlalu dibuat-buat sih.., tapi yah, namanya juga film).

Tapi..
Ada sesuatu yang mengganjal sepanjang aku menonton film ini. Dan sesuatu ini kurasa bukan hal yang akan dengan mudah dipahami oleh banyak orang. Untuk itu, aku tiba-tiba merasakan dorongan kuat untuk membuat tulisan ini.
Sesuatu itu adalah jilbab (hence the title). Ada satu keunggulan novel PBS dibanding filmnya, dan itu adalah kemampuannya membangkitkan kenanganku akan dunia pesantren sebagaimana pernah kualami dulu, sesuatu yang gagal dibangkitkan oleh filmnya. Sebenarnya, ada beberapa hal yang membuat film PBS gagal membangkitkan kenangan itu dalam diriku, tetapi kurasa hal terbesar dan paling menentukan adalah karena film ini menggambarkan bahwa pada tahun 1985 di Jombang ada sebuah pesantren putri yang para santri dan nyainya menggunakan jilbab besar dan berkaus kaki. It’s simply impossible for the time. Sampai sekarang pun, jilbab semacam ini, apalagi ditambah kaus kaki (di luar waktu sekolah), masih bukan sesuatu yang umum..
Andai latar film itu adalah sebuah pesantren di kota antah berantah bernama Jambangan misalnya, i don’t have any say. Tetapi ini Jombang, ini pesantren di Jombang (sebuah kota yang btw, tak punya pantai dan sudah jarang ada kuda), tempat aku lahir dan besar. Surely, i have something to say. And i want to say this: Sungguh disayangkan si sutradara tidak membuat riset terlebih dulu mengenai pesantren di jombang. Atau pesantren apa saja di jawa timur. Atau riset soal jilbab. Sepengetahuanku, pada tahun 1985 jilbab model semacam itu belum lazim di Jawa, bahkan model jilbab apa pun, karena pada tahun itu, para ibu nyai di pesantren-pesantren jombang yang kukenal (dan aku mengenal sangat banyak ibu nyai jombang), tidak mengenakan jilbab sebagaimana istilah itu dipahami saat ini. Rata-rata mereka hanya mengenakan kerpus (semacam topi seperti yang dikenakan Annisa sebagai lapisan dalam jilbabnya) dan sehelai selendang terbuka, tidak diikat, tidak menutup leher. Sebagian malah hanya mengenakan selendang tanpa kerpus. Sebagian lagi masih sering mengenakan kebaya ketat berkutu baru (dan fyi, tak ada yang menganggap mereka less religious karena pakaian mereka itu).
Anda bisa bilang, ah itu soal sepele. Tapi silakan sampaikan itu pada ibuku pada sekitaran tahun 1996 ketika aku diterima di sebuah universitas negeri di yogyakarta dan hendak meninggalkan rumah untuk tinggal sendiri di sebauh kota yang berjarak kurang lebih enam jam dari jombang itu (aku mirip dengan Annisa bukan? Lahir dan besar di Jombang, kuliah di Jogja). Waktu itu beliau memberiku nasihat ala seorang ibu yang khawatir pada anak gadisnya yang hendak hidup di luar pengawasan orang tua, untuk tidak terbawa arus di Jogja. Bila dipenggal sampai di sini mungkin petuah itu masih biasa, dan biasanya diteruskan untuk tidak terbawa arus pergaulan bebas. Tetapi bukan itu yang kudengar dari beliau melainkan: jangan ikut-ikutan memakai jilbab besar, apalagi bercadar, karena di jogja, tipe jilbab semacam itu sudah mulai ada. Do you get the message?
Well, in case you don’t, makna dari pesan ibu adalah sebagai berikut:

1. Jilbab besar berkain kaku yang menutupi dada hingga ke pinggang seperti ada di flm PBS bukan sesuatu yang lazim dijumpai di Jombang pada waktu itu (percayalah, karena ibu termasuk “sosialita” pesantren di Jombang, dia mengenal hampir semua tokoh pesantren di jombang, bahkan mungkin Jawa, atau mungkin Indonesia—She’s that good). Jilbab semacam itu adalah anomali, sesuatu yang asing, malah mungkin menakutkan dan mengancam sampai-sampai ibu yang juga pernah kuliah di Jogja (hei, kami di pesantren Jombang sebenarnya tidak sangat kolot soal pendidikan perempuan, ini kritik lainku untuk PBS), mengkhususkan diri untuk mengingatkanku soal itu.

2. Ibu sudah mulai prihatin melihat kecenderunganku, dan kecenderunganku dulu bukanlah menjadi anak gaul yang suka hura-hura, melainkan menjadi ekstremis fundamentalis (aku khawatir istilah ini mungkin tidak mengenakkan bagi sebagian orang, tetapi sebenarnya aku sedang mencoba sarkastis. Lagi pula, ibuku sepertinya benar-benar berpikir begitu tentangku waktu itu), suatu kesimpulan yang sepertinya beliau tarik dari dari kaus kaki yang kukenakan. Tak ada perempuan yang dikenal ibu, bahkan nyai-nyai pondok pesantren, memakai kaus kaki. Kaus kaki dikenakan hanya bila kita terpilih menjadi anggota Paskibra untuk upacara tujuhbelasan, atau sedang sakit. Atau dikenakan oleh para pria, terutama yang menjadi pegawai negeri, yang pergi ke “kantor”. Dan aku, anaknya, berkeras mengenakan kaus kaki setiap kali hendak keluar rumah, tak mau bersalaman dengan sepupu lelaki karena mereka bukan muhrim, serta mulai mendesak agar orang lain (termasuk ibu) mengenakan jilbab dengan “benar”. Tak heran ibuku khawatir.

Aku sendiri baru tahu soal jilbab yang menutup dada dan tidak mudah terbang ketika awal-awal kuliah di Jogja dan masih rajin membaca majalah-majalah islami (tentu tak perlu kusebutkan namanya bukan?) serta bergaul cukup rapat dengan komunitas islami di kampus. Aku tidak mendapatkan ajaran itu dari guru-guruku di madrasah dan pesantren, sekolot apa pun mereka. Jilbabku dulu walau menutup dada, tetapi tidak sampai pinggang dan terbuat dari kain tipis yang kadang masih memperlihatkan lekuk kuping dan samar-samar siluet rambut; bila terkena angin gampang sekali jilbabku berkibaran memperlihatkan dada atau rambut di dalamnya (mungkin lebih mirip jilbab Annisa di akhir film). Dan itulah jilbab rata-rata anak pesantren di Jombang, di Jawa Timur, bahkan juga di Jogja. Bukankah Hanung, si sutradara, pernah tinggal di Jogja? (eh, orang mana sih sebenarnya dia itu?)
Masalahnya mungkin Hanung yang lelaki memang tak pernah memperhatikan perbedaan tipis itu. Padahal perbedaan model jilbab ini tidak sesepele kelihatannya. Perbedaan ini tidak berhenti di kulit luarnya. Jilbab hampir selalu bermakna simbolis. Bukan hanya antara jilbab dan non-jilbab, tetapi antara berbagai gaya jilbab itu sendiri. Perbedaan ini menunjukkan perbedaan filosofi, atau mungkin lebih bijak bila kubilang perbedaan pemikiran keagamaan atau lebih tepat lagi perbedaan tradisi keagamaan. Inilah yang membuat ibuku khawatir, bukan sekadar masalah anaknya akan berganti mode pakaian, tapi ibu khawatir aku akan meninggalkan tradisi keagamaan kami dan berpindah ke tradisi lain.
Kekhawatiran ibu ternyata tak terbukti (aku tak pernah berjilbab panjang atau memakai cadar, meski nantinya beliau harus menghadapi kejutan lain, but that’s another story ;-)), karena sesungguhnya, meski mungkin sekarang ibu meragukannya, ibu telah cukup berhasil mengajariku hal-hal dasar yang memungkinkanku untuk mencari nilai-nilaiku sendiri, dan tak mudah terbawa arus (ke mana pun arus itu mengalir)
Oh, aku telah melenceng lagi ke persoalan pribadi (ah, tapi garis pemisah antara yang pribadi dan yang bukan pribadi sangat tipis dan lentur bukan?) ..
Kembali ke film PBS, sebenarnya ada kritikan lain soal editing film itu yang ingin kuutarakan, tetapi tiba-tiba saja itu terasa tak penting.. tiba-tiba saja aku ingin berpikir soal jilbab..

Oleh: Rika Iffati Farihah

 

--------------------------------------
Disclaimer: tulisan ini tak hendak memberi penilaian tradisi keagamaan mana yang paling benar (karena aku tidak percaya bahwa hanya ada satu tradisi keagamaan yang paling benar). Tulisan ini sekadar semacam rekaman sejarah, dari salah seorang pelakunya.. (which is me )
Disclaimer kok di bawah? Ah sudahlah..